Khutbah idul Adha 2023
Setiap tahun, terlebih pada bulan-bulan haji yang diberkahi sebagaimana saat ini, kita diingatkan dengan kisah Nabi Ibrahim al-Khalil ‘alaihis salam, Abul Anbiya’, Bapak para Nabi.
Kisah ini berfungsi untuk menghibur dan mengokohkan hati dalam pertarungan melawan kebatilan. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala
وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ وَجَاۤءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ
Semua kisah rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu (Nabi Muhammad), yaitu kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu. Di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang-orang mukmin. [Hud : 120]
Dalam kesempatan khutbah ini, kami hendak menyampaikan sejumlah pelajaran penting dari kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Kami tidak membatasi pelajaran dari kisah ujian perintah untuk menyembelih Nabi Ismail ‘alaihi salam saja, namun juga episode lain kehidupan beliau ‘alaihis salam yang sangat menakjubkan.
Pelajaran dari Nabi Ibrahim
Ma’asyiral Muslimin
rahimakumullah
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Ada
seorang pria mendatangi Rasulullah ﷺ
kemudian berkata,
يَا خَيْرَ البَرِيَّةِ
”Wahai
sebaik-baik manusia!” maka Rasulullah ﷺ
bersabda,
ذَاكَ إبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ
“Orang itu adalah Ibrahim
‘alaihis salam.” [Hadits
riwayat Muslim dalam kitab Shahih Muslim no. 2369]
Ini merupakan ketawadhuan Nabi ﷺ . Nabi ﷺ
jelas merupakan makhluk terbaik. Karena dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim Nabi ﷺ pernah bersabda,
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ
“Aku adalah pemimpin keturunan Adam.”
Beliau mengucapkan hal ini bukan untuk membanggakan diri, namun beliau diperintah untuk menyampaikan apa yang harus beliau sampaikan. Jadi kala Nabi ﷺ mengatakan bahwa Ibrahim ‘alaihis salam adalah sebaik-baik manusia, bisa jadi hal itu sebelum Nabi ﷺ mengetahui kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.[i]
Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa manusia terbaik setelah Rasulullah Muhammad ﷺ adalah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
Faktor-faktor disebutkan di dalam al-quran sehingga bisa menjadi pelajaran bagi kita umat Islam yang beriman kepada Al-Quran dan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
1.
Pertama, Ar-Rusyd
الرُّشْدُ adalah ilmu yang diiringi dengan hikmah, pemahaman serta hujjah yang kuat dalam melawan kebatilan dan bersikap teguh di atas kebenaran
Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Anbiya’: 51
وَلَقَدْ اٰتَيْنَآ اِبْرٰهِيْمَ رُشْدَهٗ مِنْ
قَبْلُ وَكُنَّا بِهٖ عٰلِمِيْنَ ٥١
Sungguh, Kami benar-benar telah menganugerahkan kepada Ibrahim petunjuk sebelum (Musa dan Harun) dan Kami telah mengetahui dirinya.
Nabi Ibrahim ‘alaihi salam telah memberikan contoh yang paling indah tentang bagaimana keteguhan orang mukmin di atas akidahnya di hadapan kampanye operasi penyesatan oleh para pengikut kebatilan.
Hal itu sebagaimana terlihat saat berdebat
dengan para penyembah berhala di Babil sebagaimana terdapat dalam surat
Al-Anbiya’ atau para penyembah bintang di Syam sebagaimana disebutkan dalam
surat Al-An’am atau saat berhadapan dengan Namrud atau Nimrod di Mesir.
- Kedua, sifat qunut yaitu taat dan tunduk, lama dan khusyu’ dalam ibadah, tenang dan mensyukuri nikmat Allah merupakan sebab-sebab kepemimpinan dalam agama
Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً قَانِتًا
لِّلّٰهِ حَنِيْفًاۗ وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ ١٢٠
Sesungguhnya Ibrahim adalah imam (sosok anutan) yang patuh kepada Allah, hanif (lurus), dan bukan termasuk orang-orang musyrik. [An-Nahl: 120]
- Ketiga, kepasrahan dan ketundukan kepada perintah syariat meskipun bertentangan dengan perasaan
Hal ini
sebagaimana ketika Allah memerintah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam untuk
menempatkan istrinya, yaitu Hajar dan anaknya yaitu Ismail yang lahir setelah
usianya tua, di sebuah padang pasir yang tandus dan sunyi.
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ
مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ
Juga ketika
Allah memerintahnya untuk menyembelih Ismail setelah mencapai usia dewasa.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي
أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ
سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا
وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ
صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا
لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107)
“Maka tatkala anak itu
sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai
anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka
pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang
yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan
anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami
memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,
sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat
baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. Ash-Shaaffaat:
102 - 107)
- Keempat, kehidupan Ibrahim ‘alaihis salam merupakan sebuah teladan tentang totalitas pengorbanan dalam hijrah di jalan Allah serta dakwah kepada Allah.
Beliau
berhijrah dari Irak menuju Syam (Palestina dan sekitarnya). Setelah itu beliau
berhijrah menuju Mesir dan kembali Syam lagi. Lalu, beliau berhijrah menuju
Hijaz (Makkah dan sekitarnya). Kemudian kembali ke Syam dan setelah itu ke
Hijaz.
Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
وَقَالَ اِنِّيْ مُهَاجِرٌ اِلٰى رَبِّيْ
ۗاِنَّهٗ هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
“Dia (Ibrahim) pun berkata,
“Sesungguhnya aku berhijrah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku.
Sesungguhnya Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” [Al-Ankabut: 26]
- Kelima, tawakkal yang
benar dan kuat serta memasrahkan segala urusan kepada Allah.
Hal ini
sebagaimana penjelasan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengucapkan doa,
حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ
“Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” [Ali Imran: 173]
Ketika
dilemparkan ke dalam kobaran api dan para sahabat Nabi Muhammad ﷺ mengucapkannya dalam perang Hamraul Asad
usai perang Uhud sebagaimana firman Allah Ta’ala,
اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ
النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًاۖ
وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ
(yaitu) mereka yang (ketika
ada) orang-orang mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang (Quraisy)
telah mengumpulkan (pasukan) untuk (menyerang) kamu. Oleh karena itu, takutlah
kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka
menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik
pelindung.” [Ali
Imran: 173]
- Ketujuh, jelasnya akidah
dan tauhid serta berlepas diri dari kemusyrikan dan orang-orang musyrik
serta memisahkan diri dari kebatilan tanpa ada kompromi.
Hal ini
sebagaimana dijelaskan oleh Allah Ta’ala dalam sejumlah firman-Nya,
وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ لِاَبِيْهِ
وَقَوْمِهٖٓ اِنَّنِيْ بَرَاۤءٌ مِّمَّا تَعْبُدُوْنَۙ ٢٦
(Ingatlah) ketika Ibrahim
berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa
yang kamu sembah,
اِلَّا الَّذِيْ فَطَرَنِيْ فَاِنَّهٗ
سَيَهْدِيْنِ ٢٧
”kecuali (kamu menyembah) Allah
yang menciptakanku. Sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” [Az-Zukhruf: 26-27]
Kemudian Allah
berfirman dalam surat Al-Mumtahanah: 4,
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ
اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۚ اِذْ قَالُوْا لِقَوْمِهِمْ اِنَّا بُرَءٰۤؤُا
مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۖ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا
بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاۤءُ اَبَدًا حَتّٰى تُؤْمِنُوْا
بِاللّٰهِ وَحْدَهٗٓ
Sungguh, benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu pada (diri) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ketika mereka berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami mengingkari (kekufuran)-mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” [ii]
Khutbah Kedua
الحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَ اْلشُكْرُ
لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَ امْتِنَانِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَ
سَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ
مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ
Mari Meneladani Nabi Ibrahim
Ma’asyiral
Muslimin rahimakumullah,
Perlu kita ketahui bahwa semua yang Allah
ceritakan kepada kita tentang sejarah kehidupan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam itu
diperintahkan kepada kita dengan perintah yang bersifat khusus. Allah Ta’ala
berfirman,
ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ
اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ١٢٣
Kemudian, Kami wahyukan kepadamu (Nabi
Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim sebagai (sosok) yang hanif dan tidak
termasuk orang-orang musyrik.” [An-Nahl: 123]
Kemudian Allah
Ta’ala berfirman,
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ
اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۚ
Benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu
pada (diri) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya … [Al-Mumtahanah: 4]
Jadi, akidah tauhid dan akhlak Nabi Ibrahim
serta semua yang Allah kisahkan tentang Nabi Ibrahim itu merupakan bagian dari
ajaran agama Islam. Ini merupakan perintah umum bagi semua keadaan Nabi
Ibrahim. Namun, Allah Ta’ala mengecualikan satu keadaan yaitu firman Allah
Ta’ala,
اِلَّا قَوْلَ اِبْرٰهِيْمَ لِاَبِيْهِ
لَاَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ اَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍۗ
Akan tetapi, (janganlah engkau teladani)
perkataan Ibrahim kepada ayahnya) “Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu,
tetapi aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.” [Al-Mumtahanah: 4]
Maksudnya, janganlah kalian wahai umat umat
Muhamad mengikuti keadaan ini dengan memohonkan ampun untuk orang-orang
musyrik. Sesungguhnya permohonan ampun Ibrahim untuk ayahnya itu karena janji
yang pernah dia ucapkan.
Hukum dasarnya adalah orang beriman dilarang
memohonkan ampunan bagi orang musyrik kepada Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana
diterangkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا
اَنْ يَّسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَلَوْ كَانُوْٓا اُولِيْ قُرْبٰى مِنْۢ
بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُمْ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ ١١٣
Tidak ada hak bagi Nabi dan orang-orang yang
beriman untuk memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik
sekalipun mereka ini kerabat(-nya), setelah jelas baginya bahwa sesungguhnya
mereka adalah penghuni (neraka) Jahim.
وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ اِبْرٰهِيْمَ
لِاَبِيْهِ اِلَّا عَنْ مَّوْعِدَةٍ وَّعَدَهَآ اِيَّاهُۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ
لَهٗٓ اَنَّهٗ عَدُوٌّ لِّلّٰهِ تَبَرَّاَ مِنْهُۗ اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ لَاَوَّاهٌ
حَلِيْمٌ ١١٤
Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada
Allah) untuk bapaknya) tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah dia
ikrarkan kepadanya. Maka, ketika jelas baginya (Ibrahim) bahwa dia (bapaknya)
adalah musuh Allah, dia (Ibrahim) berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim
benar-benar seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. [At-Taubah: 113-114][iii]
وَلَقَدْ
آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ ﴿ ٥١﴾
walaqad aataynaa ibraahiima
rusydahu min qablu wakunnaa bihi 'aalimiina
[21:51] Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan
kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami
mengetahui (keadaan)nya.
إِذْ قَالَ
لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَٰذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا
عَاكِفُونَ ﴿ ٥٢﴾
idz qaala li-abiihi
waqawmihi maa haadzihi alttamaatsiilu allatii
antum lahaa 'aakifuuna
[21:52] (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada
bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat
kepadanya?"
قَالُوا
وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ ﴿ ٥٣﴾
qaaluu wajadnaa aabaa-anaa lahaa 'aabidiina
[21:53] Mereka menjawab: "Kami mendapati
bapak-bapak kami menyembahnya".
قَالَ لَقَدْ
كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ ﴿ ٥٤﴾
qaala laqad kuntum antum waaabaaukum
fii dhalaalin mubiinin
[21:54] Ibrahim berkata: "Sesungguhnya kamu
dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata".
قَالُوا
أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنْتَ مِنَ اللَّاعِبِينَ ﴿ ٥٥﴾
qaaluu aji/tanaa bialhaqqi
am anta mina allaa'ibiina
[21:55] Mereka menjawab: "Apakah kamu datang
kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang
bermain-main?"
قَالَ بَلْ
رَبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَىٰ
ذَٰلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ ﴿ ٥٦﴾
qaala bal rabbukum rabbu alssamaawaati
waal-ardhi alladzii fatharahunna wa-anaa 'alaa dzaalikum
mina alsysyaahidiina
[21:56] Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan
kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya: dan aku termasuk
orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu".
وَتَاللَّهِ
لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ ﴿ ٥٧﴾
wataallaahi la-akiidanna ashnaamakum
ba'da an tuwalluu mudbiriina
[21:57] Demi Allah, sesungguhnya aku akan
melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi
meninggalkannya.
فَجَعَلَهُمْ
جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ ﴿ ٥٨﴾
faja'alahum judzatsan illaa kabiiran
lahum la'allahum ilayhi yarji'uuna
[21:58] Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu
hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang
lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.
قَالُوا مَنْ
فَعَلَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ ﴿ ٥٩﴾
qaaluu man fa'ala haadzaa bi-aalihatinaa innahu
lamina alzhzhaalimiina
[21:59] Mereka berkata: "Siapakah yang
melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk
orang-orang yang zalim".
قَالُوا
سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ ﴿ ٦٠﴾
qaaluu sami'naa fatan yadzkuruhum
yuqaalu lahu ibraahiimu
[21:60] Mereka berkata: "Kami dengar ada
seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim".
قَالُوا
فَأْتُوا بِهِ عَلَىٰ أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ ﴿ ٦١﴾
qaaluu fa/tuu bihi 'alaa a'yuni alnnaasi
la'allahum yasyhaduuna
[21:61] Mereka berkata: "(Kalau demikian)
bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka
menyaksikan".
قَالُوا أَأَنْتَ
فَعَلْتَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ ﴿ ٦٢﴾
qaaluu a-anta fa'alta haadzaa bi-aalihatinaa yaa ibraahiimu
[21:62] Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang
melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?"
قَالَ بَلْ
فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ ﴿ ٦٣﴾
qaala bal fa'alahu kabiiruhum haadzaa fais-aluuhum
in kaanuu yanthiquuna
[21:63] Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung
yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika
mereka dapat berbicara".
فَرَجَعُوا
إِلَىٰ أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ ﴿ ٦٤﴾
faraja'uu ilaa anfusihim faqaaluu
innakum antumu alzhzhaalimuuna
[21:64] Maka mereka telah kembali kepada
kesadaran dan lalu berkata: "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang
yang menganiaya (diri sendiri)"
ثُمَّ نُكِسُوا
عَلَىٰ رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَٰؤُلَاءِ يَنْطِقُونَ ﴿ ٦٥﴾
tsumma nukisuu 'alaa ruuusihim
laqad 'alimta maa haaulaa-i yanthiquuna
[21:65] kemudian kepala mereka jadi tertunduk
(lalu berkata): "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa
berhala-berhala itu tidak dapat berbicara".
قَالَ
أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا
يَضُرُّكُمْ ﴿ ٦٦﴾
qaala afata'buduuna min duuni allaahi
maa laa yanfa'ukum syay-an walaa yadhurrukum
[21:66] Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu
menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat
sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?"
أُفٍّ لَكُمْ
وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ ﴿ ٦٧﴾
uffin lakum walimaa ta'buduuna min
duuni allaahi afalaa ta'qiluuna
[21:67] Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu
sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?
Komentar
Posting Komentar